Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ngaji Rumi: Catatan Ringan Atas Buku Karya Afifah Ahmad

Selasa, 13 April 2021 12:51 WIB
Ngaji Rumi: Catatan Ringan Atas Buku Karya Afifah Ahmad

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya perlu menyatakan di awal, saya bukan ahli sastra, pun bukan penikmat sastra sejati. Saya lebih menikmati buku-buku politik dibanding puisi. Jadi ini adalah catatan ringan, apa yang terlintas di pikiran setelah membaca buku “Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik” karya Afifah Ahmad yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Afkaruna.

Kutipan-kutipan kata-kata Rumi sangat dikenal publik. Saya juga kalau sedang ingin “gaya-gayaan,” menyelipkan sebait kata-kata Rumi dalam tulisan saya. Caranya sederhana, buka Google, lalu ketik “Rumi quotation” dan keluarlah berbagai artikel semacam, “215 Rumi Quotes on Life, Love and Strength That Will Inspire You.”

Berita Terkait : Kubu AHY Nilai Marzuki Alie Cs Cabut Gugatan Karena Takut Kalah

Tapi kali ini sebuah buku tentang Rumi ada di tangan saya. Ada kebiasaan di Iran sana, disebut “Fal-e Hafez.” Di pinggir jalan, kadang ada orang yang membawa tumpukan kertas yang berisi potongan syair-syair Hafez-e Shirazi, penyair legendaris Persia. Nah, seorang yang sedang galau bisa mengambil secara acak satu kertas, lalu membayar uang seikhlasnya. Isi syair di kertas itu biasanya memberi jawaban atas kegalauan itu.

Saya pun iseng membuka secara acak halaman buku Ngaji Rumi ini. Kebetulan, kemarin saya sedang sangat galau dan kesal atas sesuatu hal. Ajaib, yang terbuka adalah halaman 99, ketika Afifah mengutip syair Rumi dalam Matsnawi jilid 3 bait 1899, “Tidak ada satu daun pun yang jatuh dari pohon tanpa seizin Sang Pencipta.” Afifah menjelaskan bahwa Rumi melalui syairnya ini sedang menjelaskan konsep ketawakalan.

Berita Terkait : Marzuki Cs Cabut Gugatan, Kubu AHY : Baguslah, Akhirnya Mereka Sadar

Saya pun langsung sadar diri. Semua usaha sudah saya lakukan sebaik mungkin. Selanjutnya adalah tawakal. Ketika ada masalah, ya terima sajalah. InsyaAllah nanti ketahuan hikmahnya apa.

Pengalaman ini membuat saya semakin bersemangat membaca buku Ngaji Rumi ini. Dan memang saya menemukan banyak sekali hal baru. Misalnya, saya baru tahu bahwa Rumi itu asli Persia (lha kemana aja selama ini, Bu?) Maksud saya, bukankah Museum Rumi ada di Turki?

Berita Terkait : Anwar Ibrahim: Kumandangkan Lagi Pemahaman Karya Buya Hamka

Ternyata, Rumi kelahiran Balkh (sebuah daerah di Afghanistan sekarang), yang merupakan bagian dari Khorasan Raya di bawah Imperium Persia, yang sejak dulu hingga kini masyarakatnya menggunakan bahasa Persia dialek Dari, Farsi-ye Dari. Jadi bahasa ibu Rumi adalah bahasa Persia, dan karena itulah Rumi menulis syairnya dalam bahasa Persia. Memang Balkh pernah berada di bawah Imperium Seljuk, cikal bakal Ottoman.

Ketika usianya 14 tahunan, Rumi bersama ayah, ibu, dan saudaranya, mengembara ke kota-kota lain. Ayah Rumi adalah seorang ulama dan guru sufi, Bahaudin Walad, yang juga menulis buku berjudul Ma’arif. Tujuan utama perjalanan keluarga Rumi adalah Mekah (untuk berhaji), tapi di perjalanan mereka mampir di berbagai kota.
 Selanjutnya