Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Komisioner KPAI Retno Listyarti
Ortu Bokek, Sekolah Online Memberatkan
Selasa, 21 Juli 2020 07:05 WIB
Sebelumnya
Berbeda dengan anak-anak masih masih hidup dalam keluarga dengan kelas ekonomi menengah. Merekalah yang terlayani dengam PJJ daring saat ini. “Mereka punya kuota, punya guru les, sehingga tertolong. Ini menunjukkan bahwa disparitas pendidikan kita lebar banget. Ini sudah terjadi sebelum pandemi. Setelah pandemi semakin terlihat nyata.”
Terkait masalah ini, Retno mengaku sudah menyampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama, maupun di level Kemdikbud dan Kemenag. “Menag hadir. Kalau Mendikbud diwakili Dirjen Dikdasmen,” ingatnya.
Baca juga : Dokter Reisa: Ganti Masker Setelah 4 Jam Dipakai
Kendati demikian, lanjut Retno, PJJ di kondisi sekarang masih harus dilakukan. Karena, ia tidak yakin kapasitas dan sistem kesehatan yang dimiliki Indonesia mampu meng-handle anak-anak yang terpapar corona dalam jumlah besar. Sekarang saja, anak-anak yang meninggal karena Covid-19 di Indonesia sudah yang tertinggi di Asia Tenggara.
Berbeda dengan negara-negara maju, Italia contohnya. “Jumlah kasusnya, melampaui Indonesia. Tapi ternyata tidak ada korban jiwa dari anak-anak. Misalnya Italia,” kata Retno, mencontohkan.
Baca juga : MPR dan DPD Sepakat Saling Menguatkan
Untuk mendeteksi sumber penularan virus jika sekolah dibuka juga tidak mudah. Apakah terpaparnya di sekolah, di rumah, di perjalanan; angkot atau kendaraan umum atau dimana. “Kalau tertular dari keluarga, gampang mendeteksinya,” sambung dia.
Hal yang harus didorong ke depan, yakni dibuatkan modul oleh pemerintah untuk sekolah daring ini. Modul itu, kata dia bisa dibikin jika kurikulumnya disederhanakan. “Kalau gak, guru harus mengejar ketercapaian kurikulum. Bebannya tinggi,” kata Ketua Dewan Pengawas Federasi Serikat Guru Indonesia ini.
Baca juga : Komisioner KPU Sumsel Lempar Bola ke KPU Pusat
Selain itu, jam belajar juga harus diperpendek. Lalu jangan memindahkan jam belajar di sekolah ke rumah. “Kalau dipindahkan ke rumah, siswa harus berjam-jam, harus pakai seragam pula. Apa esensinya pakai seragam di dalam rumah?,” tanya dia, keheranan.
Menurutnya, PJJ tidak harus selalu daring. Bisa digabung. Sayangnya, ketika memasuki fase kedua, tidak ia tidak melihat adanya perubahan yang dilakukan, baik oleh Kemdikbud maupun Kemenag. “Kami sudah bersurat ke Presiden untuk menggratiskan internet dan mulai melatih guru,” tandas Retno. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya