Dark/Light Mode

Petugas Bandara Pakai Alat Tes Covid-19 Bekas, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Minta Maaf

Rabu, 28 April 2021 23:32 WIB
Pelayanan rapid test antigen di bandara. (Foto: Ist)
Pelayanan rapid test antigen di bandara. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meminta maaf atas dugaan pemakaian alat tes bekas dalam layanan rapid test Antigen Covid-19 di Bandara Internasional Kualanamu.

Edy mengakui, sebagai kepala daerah dirinya lalai melakukan tugas pengawasan atas layanan yang dikelola PT Kimia Farma Diagnostik itu.

"Saya minta maaf, itu kelengahan saya. Saya pikir semua orang sudah melakukan tugasnya dengan baik. Tapi ada orang yang menyelewengkan wewenang tersebut," ujar Edy, Rabu (28/4).

Baca juga : Penumpang Wajib Tunjukin Tes Covid-19 Yang Berlaku Sehari

Dia mengingatkan, di tengah kondisi pandemi Covid-19, petugas seharusnya bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Bukan malah mengambil kesempatan dengan "mendaur ulang" alat pendeteksi Covid-19 itu.

"Saya minta kepada pihak kepolisian agar para pelaku diberikan tindakan tegas agar memberikan efek jera," tegasnya.

Mengantisipasi terjadinya hal serupa, Pemprov Sumut akan melakukan penyisiran ke tempat-tempat pelayanan tes Covid-19. "Penelusuran ini akan dicari terus," tandas Edy.

Baca juga : Gubernur Sumbar: Kalau Kangen Rendang Dan Lamang Tapai, Minta Kirimin Aja

Sikap Edy ini berbanding terbalik dengan sikap Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostik, Adil Fadilah Bulqini yang masih enggan minta maaf atas temuan Polda Sumut itu.

"Kami belum sampaikan permintaan maaf karena belum terbukti bersalah, masih dalam proses penyelidikan, masih dugaan," ujar Adil, dalam konferensi pers di Kantor PT Angkasa Pura II, Bandara Kualanamu, petang tadi.

Praktik pemakaian alat rapid tes antigen bekas itu terbongkar ketika Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Sumatera Utara (Sumut) menggerebek tempat pelayanan rapid test antigen di Lantai Mezzanine Bandara Kualanamu (KNIA) Deliserdang, Selasa (27/4).

Baca juga : Kasus Covid-19 Bisa Meledak Kayak India, Memangnya Mau?

Petugas menahan lima petugas uji cepat antigen yang merupakan karyawan PT Kimia Farma Diagnostik. Saat diinterogasi, petugas Kimia Farma Diagnostik mengakui, alat yang digunakan untuk mengambil sampel adalah barang bekas.

Mereka biasanya mencuci alat yang sudah dipakai dengan air. Setelah itu, alat bekas tadi dimasukkan kembali ke tempat yang baru. [OKT]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.