Dark/Light Mode

Isolasi Mandiri 2 Bulan

Minggu, 20 Desember 2020 06:04 WIB
Ngopi - Isolasi Mandiri 2 Bulan
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Tak tega rasanya melihat salah satu tetangga yang terpapar Virus Corona. Umurnya sudah lebih dari 55 tahun. Harus tinggal sendirian di dalam rumah. Seluruh anak dan cucunya telah mengungsi ke tempat lain, sejak awal November lalu.

Awalnya, ia tidak menduga sama sekali. Suatu malam tiba-tiba demam tinggi. Panasnya menyentuh 38 derajat. Diselingi batuk ringan. Tak sampai sesak napas. Dia menduga hanya flu biasa, karena habis berkunjung ke rumah saudaranya yang berada di Bogor, Jawa Barat.

Setelah seminggu berlalu, ternyata tak kunjung sembuh. Gejala semakin bertambah dengan lidah yang getir. Yang berujung dengan mati rasa sehari kemudian.

Berita Terkait : Diserang Babi Hutan

Curiga ada yang tak beres dengan kondisi tubuhnya, dia lantas memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat. Setelah menceritakan seluruh keluhan yang dialaminya, akhirnya dokter memerintahkan untuk swab test. Setelah itu, diperbolehkan pulang sejenak. Namun harus terus memakai masker, walaupun di dalam rumah.

Selama menunggu hasil, dia memutuskan melakukan isolasi mandiri di rumah. Seluruh keluarganya juga diungsikan ke tempat lain. Takutnya positif seperti dugaan dokter di Puskesmas.

Tiga hari kemudian hasilnya bisa ditebak, positif Corona. Dokter Puskesmas kemudian berkoordinasi dengan pihak kelurahan, RT dan RW untuk memberikan arahan agar melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena seluruh rumah sakit di Depok telah penuh. Komunikasi dengan warga secara langsung dibatasi untuk sementara waktu. Apalagi, ia hanya mengalami gejala ringan.

Berita Terkait : Kangen Nonton Timnas Di Stadion

Tak lupa, dokter juga memberikan berbagai macam vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh. Begitu juga para tetangga ikut bergotong-royong memberikan makanan ringan hingga berat selama ia menjalani isolasi mandiri.

Tak terasa isolasi mandiri sudah berlangsung tiga minggu. Melebih batas waktu yang ditetapkan pemerintah, yaitu selama dua minggu. Keluarganya kemudian menghubungi kembali salah satu dokter di Puskesmas, Bojongsari. Jawaban dokter cukup mengagetkan. Ternyata tidak perlu swab lagi. Dokter bilang yang penting dalam dua minggu tidak ada gejala apapun, maka itu sudah sembuh alias negatif dari penyakit Corona.

Jawaban tersebut tidak memuaskannya. Terlebih, dia merasa masih ada yang aneh di lidahnya. Indra perasa ternyata belum normal seperti sedia kala. Tapi, batuk dan demam sudah tidak ada lagi. Dia kemudian berinisiatif kembali melakukan isolasi mandiri selama dua minggu.

Berita Terkait : Curhatan Sopir Taksi Online

Dua minggu setelah itu, ternyata indra perasanya belum juga normal. Terhitung, lebih dari satu bulan hilang rasa. Semua makanan terasa hambar. Bingung dengan kondisi itu, keluarganya kembali menghubungi dokter di Puskesmas awal.

Ternyata, dokter hanya menyarankan agar isolasi mandiri dilanjutkan kembali. Anak dan cucunya juga tetap di larang berkumpul dengannya. Hal itu dilakukan hingga akhir Desember 2020. Sehingga total ia telah menjalani isolasi mandiri selama dua bulan sejak terdeteksi positif awal November. [Ahmad Lathif Rosyidi/ Wartawan Rakyat Merdeka]