Dewan Pers

Dark/Light Mode

Minta Malaysia Klaim Kepri

Partai Garuda Sebut Mahathir Pemimpi Yang Tersesat

Kamis, 23 Juni 2022 16:13 WIB
Waketum Partai Garuda Teddy Gusnaidi. (Foto: Ist)
Waketum Partai Garuda Teddy Gusnaidi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad meminta Malaysia untuk mengklaim Kepulauan Riau yang ada di wilayah Indonesia dengan berbagai teorinya.

Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi menyatakan, walaupun yang bicara warga sipil, bukan Pemerintah Malaysia, tetapi Mahathir adalah tokoh di Malaysia. Sehingga pernyataan politisi berjuluk Dr M itu bisa menimbulkan efek yang tidak baik.

Berita Terkait : Mahathir Halu!!!

"Pemerintah Indonesia sebaiknya segera meminta pemerintah Malaysia membuat pernyataan dan mengurus warganya yang sedang tersesat dengan pernyataan sesatnya itu, karena bisa membuat gejolak yang akhirnya merusak hubungan baik Indonesia Malaysia," saran Teddy, dalam siaran pers, Kamis (23/6).

Dia menyatakan, pemerintah wajib menjaga kedaulatan negara ini dari rongrongan negara lain. Tapi Teddy meyakini, Malaysia tidak seperti itu.

Berita Terkait : Di Negeri Kaya Raya, Sepak Bola Pemersatu

"Ini hanya pernyataan seorang yang mungkin terkena post power syndrom. Sangat disayangkan, seorang Mahathir yang dulu seorang pemimpin, kini menjadi seorang pemimpi yang tersesat," tandasnya.

Sekadar latar, ucapan kontroversial itu disampaikan Mahathir saat berpidato di acara Kongres Survival Melayu pada Minggu (19/6).

Berita Terkait : Waketum Partai Garuda: Selamatkan Buruh Dari Politisasi Partai Buruh

Mahathir mengatakan, Malaysia harus menuntut penyerahan kembali pulau-pulau yang dulunya sebagai bagian Kerajaan Johor seperti Singapura dan Kepulauan Riau.

"Tentunya kita akan tuntut, tuntut supaya diberi balik kepada Malaysia. Kita juga harus tuntut supaya diberi balik bukan hanya Pedra Branca ini, Pulau Batu Puteh ini untuk dikembalikan kepada kita. Sebaiknya kita tuntut juga Singapura dan pulau-pulau Riau dikembalikan kepada Malaysia sebagai Tanah Melayu," tegas Mahathir dalam pidato yang disiarkan di saluran televisi Astro Awani.
 Selanjutnya