Dark/Light Mode

Ekonomi Global Cenderung Melambat

Rupiah Diyakini Perkasa

Rabu, 31 Januari 2024 07:10 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar (kiri), Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), dan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) menyampikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I tahun 2024 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (30/1/2024). (Foto: Antara)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) bersama Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar (kiri), Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan), dan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) menyampikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I tahun 2024 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (30/1/2024). (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Kendati begitu, Sri Mulyani mengakui, situasi global pada 2024 masih penuh dengan keti­dakpastian. Hal ini akan mem­berikan dampak negatif terhadap perekonomian dalam negeri.

Tahun 2024, berbagai risiko global masih harus dicermati, yaitu perkembangan dan kecen­derungan pelemahan ekonomi dari sejumlah negara utama du­nia.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi dunia melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang mereda. Hal itu terjadi di tengah divergensi antarnegara yang semakin melebar.

“Meningkatnya tensi tekanan geopolitik yang makin eskalatif dan fragmentasi global akan meningkatkan tekanan fiskal di berbagai negara,” ujarnya.

Baca juga : Waspada Pertumbuhan Ekonomi Kita Terganggu

Di acara yang sama, Guber­nur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan menguat. Ada se­jumlah dorongan mengapa dia meyakini akan hal itu.

“Nilai tukar akan tetap stabil, bahkan akan ada kecenderungan menguat khususnya di paruh kedua 2024,” yakin Perry.

Perry mengatakan, kondisi ini melanjutkan penguatan yang terjadi pada nilai tukar rupiah di akhir Desember 2023 yakni, 1,1 persen secara year on year (yoy).

Ada sejumlah alasan mengapa BI meyakini nilai tukar rupiah akan menguat. Antara lain, didukung oleh meredanya ketida­kpastian keuangan global.

Baca juga : Jelang Akhir Pekan, Rupiah Naik Tipis

Kecenderungan menurunnya yield obligasi negara-negara maju termasuk US Tresury dan menurunnya tekanan penguatan dolar AS.

Untuk 2023, nilai tukar rupiah hingga Desember 2023 tercatat menguat 1,1 persen (yoy). Perry menyebut, penguatan ini lebih baik dari sejumlah negara, di antaranya Thailand dan Filipina.

Penguatan itu didukung oleh masuknya portofolio asing, secara total Rp 15,39 triliun. Ter­diri dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp 2,58 triliun, saham Rp 0,4 triliun dan sekuritas rupiah BI Rp 6,89 triliun.

Dalam acara ini, selain Sri Mulyani dan Perry, hadir juga Ketua Dewan Komisioner Oto­ritas Jasa Keuangan (OJK) Ma­hendra Siregar dan Ketua Lem­baga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa selaku anggota KSSK.

Baca juga : Banggar DPR Wanti-Wanti Pemerintah Rancang APBN 2024

Sebelumnya, ekonom senior Chatib Basri mengatakan, nilai tukar rupiah relatif aman di tengah berbagai kondisi yang dapat mempengaruhi saat ini.

“Depresiasi rupiah relatif masih lebih kecil dari mata uang negara lain. Kalau ada penu­runan Rp 200, tidak apa lah,” kata Chatib di Jakarta, Senin (29/1/2024).

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu 31/1/2024 dengan judul Ekonomi Global Cenderung Melambat, Rupiah Diyakini Perkasa     

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.